TAMIANGMENDE.COM: Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (01/06) mengatakan bahwa Israel dan Hizbullah, melalui perantara masing-masing, telah sepakat untuk menghentikan aksi saling tembak.
Pernyataan Trump tersebut disampaikan setelah Iran menyatakan adanya penangguhan perundingan dengan Amerika Serikat terkait serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon Selatan. Serangan tersebut sejauh ini telah menewaskan lebih dari 3.400 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Trump mengatakan kepada ABC News bahwa dirinya yakin kesepakatan dengan Iran dapat tercapai “dalam sepekan ke depan.” Sasaran perundingan adalah memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.
Trump mengaku telah berbicara dengan pihak Israel dan Hizbullah
Trump mengatakan telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin ‘Bibi’ Netanyahu serta perwakilan senior Hizbullah.
“Saya melakukan diskusi yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Israel Bibi Netanyahu. Tidak akan ada pasukan Israel yang menuju Beirut, dan pasukan yang sebelumnya bergerak ke sana telah diperintahkan untuk pulang,” tulis Trump di media sosial.
“Demikian pula, melalui perwakilan tinggi mereka, saya melakukan percakapan yang sangat baik dengan Hizbullah, dan mereka sepakat untuk menghentikan semua aksi saling tembak. Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka juga tidak akan menyerang Israel.”
Dalam unggahan lain yang muncul beberapa menit kemudian, Trump menulis bahwa “perundingan dengan Republik Islam Iran terus berlangsung dengan cepat.”
Iran menangguhkan perundingan dengan AS
Sebelumnya, pada Senin (01/06), stasiun televisi milik pemerintah Iran mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran yang mengancam akan membuka medan konflik baru dan tetap menutup Selat Hormuz jika Israel melanjutkan invasinya di Lebanon.
“Iran menganggap setiap pelanggaran terhadap batas yang mereka tetapkan di Lebanon dan Gaza sebagai bentuk perang langsung,” demikian pernyataan yang dikutip dari organisasi intelijen Garda Revolusi Iran.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa pihak Iran menghentikan sementara komunikasi melalui para mediator dan menyalahkan tindakan Israel di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa Iran menganggap Lebanon sebagai bagian dari gencatan senjata antara AS dan Iran yang masih rentan. Sementara itu, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai eskalasi Israel di Lebanon sebagai “bukti nyata bahwa AS tidak mematuhi gencatan senjata.”
Israel dan Hizbullah belum pastikan gencatan senjata
Pemerintah Lebanon mengumumkan bahwa Hizbullah, yang didukung Iran, menyetujui usulan AS untuk menghentikan serangan terhadap Israel, dengan syarat Israel menghentikan serangannya ke wilayah pinggiran selatan Beirut.
Dalam pernyataan yang diunggah Kedutaan Besar Lebanon di Washington, D.C., melalui X, disebutkan bahwa kesepakatan tersebut tercapai setelah adanya pembicaraan antara Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Setelah itu, Presiden AS Donald Trump juga berbicara dengan duta besar AS di Lebanon, Nada Maawad.
Menurut pernyataan tersebut, Trump telah menginformasikan kepada Maawad bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga telah menyetujui usulan tersebut.
Sementara itu, Netanyahu menekankan bahwa militer Israel akan “terus beroperasi sesuai rencana di wilayah selatan Lebanon”, tetapi tidak secara jelas menyatakan apakah dia menyetujui usulan AS tersebut.
“Saya berbicara dengan Presiden Trump malam ini dan mengatakan kepadanya bahwa jika Hizbullah tidak menghentikan tembakan ke kota-kota dan warga kami, Israel akan menyerang target-target teroris di Beirut,” kata Netanyahu dalam unggahan di X. Ia menambahkan, “Posisi kami tetap tidak berubah.”
Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, dikutip oleh Reuters, mengatakan kelompoknya mendukung gencatan senjata penuh di seluruh Lebanon sebagai syarat penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan. Namun, seperti Netanyahu, Fadlallah tidak secara tegas menyatakan apakah Hizbullah akan menghentikan serangan terhadap wilayah Israel.
Pertempuran Israel-Hizbullah terus berlanjut
Pertempuran antara kedua pihak masih berlanjut setelah pengumuman Trump. Hizbullah mengeklaim telah menyerang pasukan Israel di wilayah selatan Lebanon, sementara Israel mengatakan pihaknya berhasil mencegat dua proyektil yang diduga ditembakkan dari Lebanon.
Pemerintah Lebanon tengah mempersiapkan kelanjutan perundingan dengan Israel yang dimediasi AS pada Selasa (02/06) dan Rabu (03/06), dengan harapan dapat mencapai gencatan senjata jangka panjang.
Kedutaan Besar Lebanon di Washington mengatakan bahwa perundingan tersebut bertujuan untuk “membahas perkembangan terbaru dan melanjutkan proses yang sedang berjalan.”
Alasan Lebanon terlibat dalam konflik yang lebih luas
Lebanon terseret ke dalam perang antara AS, Israel, dan Iran sejak 2 Maret, ketika Hizbullah menyerang Israel setelah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas.
Serangan tersebut memicu serangan balasan Israel ke berbagai wilayah Lebanon, yang kemudian diikuti oleh operasi militer darat Israel di wilayah selatan Lebanon, di mana mereka tetap berada di wilayah tersebut meski gencatan senjata telah disepakati pada pertengahan April.
Pada akhir pekan lalu, pasukan Israel merebut Kastel Beaufort yang berusia sekitar 900 tahun di dekat kota Nabatiyeh, wilayah selatan Lebanon, dan mengibarkan bendera Israel di lokasi tersebut.
Menurut Netanyahu, keberhasilan merebut kastel tersebut menandai “perubahan dramatis” dalam perang melawan Hizbullah.***










