Tamiangmende.com| Jakarta — Presiden Prabowo Subianto disebut sengaja mempercepat penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional supaya tidak merusak citra pemerintahannya di akhir masa jabatan. Sebab di awal kepemimpinan ini pula sokongan kekuasaan dari partai politik masih bisa dikendalikannya, kata pengamat.
Tapi lebih dari itu, Direktur Eksekutif yang juga peneliti senior di Populi Center, Afrimadona, memaparkan penganugerahan Soeharto sebagai pahlawan nasional sebetulnya berkelindan dengan persepsi di kalangan mayoritas masyarakat kelas bawah yang memandang positif sosok Soeharto dan rezim militer-otoriter Orde Baru.
Mereka menganggap Soeharto dan Orde Baru identik dengan pemimpin yang kuat, memiliki pemerintahan yang stabil, dan mampu menciptakan inflasi yang rendah.
Bahkan, hasil penelitiannya menunjukkan sebagian besar dari setiap generasi—entah itu baby boomer, X, millennial, hingga Z—mempunyai pandangan baik terhadap Soeharto.
Di sisi lain, penetapan Soeharto sebagai pahlawan terus mendapat penolakan dari sejumlah kalangan. Di sejumlah kota muncul unjuk rasa.
Lantas, apa yang akan terjadi setelah Soeharto ditetapkan sebagai pahlawan nasional?
Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan status pahlawan nasional kepada Soeharto, presiden Indonesia kedua sekaligus mantan mertuanya, Senin (10/11).
Dalam seremoni di Istana Negara, Jakarta, status pahlawan nasional diserahkan secara simbolis kepada dua anak Soeharto, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut dan Bambang Trihatmodjo.
[BBC/Day)













