TAMIANGMENDE.COM: Hari ini, kita sering mendengar akronim atau singkatan kata seperti misalnya japri (jalur pribadi) atau modus (modal dusta). Lalu, sejak kapan kebiasaan singkat menyingkat kata ini muncul?
Fenomena singkat-menyingkat kata di masyarakat sampai hari ini masih terus berkembang. Singkatan atau akronim baru selalu muncul dan mewarnai percakapan kita sehari-hari. Beberapa di antaranya seperti mager (malas gerak), bucin (budak cinta) atau terkait makanan, batagor (bakso tahu goreng).
Soenjono Dardjowi Djojo dalam paper berjudul Acronymic Patterns in Indonesian (1979) pernah meneliti fenomena ini. Dalam penyelidikannya, kebiasaan orang Indonesia menyingkat kata atau membuat akronim sudah ada sejak zaman dulu. Namun, kebiasaan ini menjadi populer ketika memasuki tahun 1960an.
Bahkan, materi soal singkatan kata atau akronim ini menjadi pelajaran wajib di akademi militer. Para calon prajurit harus mengikuti kursus akronim.
Kebiasaan singkat menyingkat kata ini pun semakin populer. Salah satunya dipopulerkan oleh Presiden pertama Indonesia, Sukarno. Misalnya lewat istilah berdikari yang merupakan akronim dari berdiri di kaki sendiri. Istilah ini disematkan pada pidato-pidato sang proklamator.
Saat peristiwa kudeta gagal pada 1965 pecah, kebiasaan membuat akronim ini semakin populer. Akronim dan singkatan baru pun terus bermunculan.
Akronim Makin Populer
Saat kekuasaan berganti ke era Presiden Suharto, pembuatan akronim atau singkatan begitu masif. Misalnya program pemerintah seperti rencana pembangunan lima tahun disingkat menjadi pelita. Kemudian, ada juga Jakarta Raya disingkat menjadi jaya. Akronim sering sekali dipakai oleh pemerintah untuk melakukan sosialisasi program.
Tradisi singkat menyingkat kata ini pun terus hidup hingga hari ini. Namun, kini akronim sering dibuat dari bahasa gaul untuk percakapan sehari-hari. Jadi, apa akronim favoritmu?
(rdp/imk)












