TAMIANGMENDE.COM: Di tengah hiruk-pikuk konflik Timur Tengah, ada satu negara yang sering luput dari perhatian publik, tetapi justru memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas kawasan. Negara itu adalah Oman. Ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat memanas, ketika ancaman perang memenuhi pemberitaan internasional, atau ketika jalur diplomasi tampak buntu, nama Oman hampir selalu muncul sebagai penghubung.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa Oman begitu dipercaya oleh kedua pihak yang telah bermusuhan selama lebih dari empat dekade?
Jawabannya terletak pada posisi unik Oman dalam lanskap geopolitik Timur Tengah. Berbeda dengan banyak negara lain di kawasan yang sering terlibat dalam persaingan politik dan keamanan regional, Oman memilih jalur moderasi dan keseimbangan.
Dalam studi hubungan internasional, pendekatan seperti ini sering disebut sebagai balanced diplomacy, yaitu strategi menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak yang saling berseberangan tanpa terjebak dalam blok politik tertentu.
Shuttle Diplomasi
Hubungan Iran dan Amerika Serikat sendiri telah berada dalam kondisi permusuhan sejak Revolusi Iran 1979. Ketegangan yang berlangsung selama lebih dari 45 tahun tersebut membuat komunikasi langsung sering kali sulit dilakukan.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran pihak ketiga menjadi sangat penting. Oman kemudian mengambil peran sebagai jembatan komunikasi yang memungkinkan kedua pihak tetap dapat bertukar pesan tanpa harus berhadapan secara langsung.
Peran tersebut dikenal dalam kajian diplomasi sebagai shuttle diplomacy. Dalam mekanisme ini, mediator berpindah antara dua pihak yang berselisih untuk menyampaikan pesan, usulan, maupun respons masing-masing pihak.
Oman telah menjalankan fungsi ini selama bertahun-tahun dengan tingkat kepercayaan yang relatif tinggi. Ketika Washington dan Teheran tidak dapat duduk bersama, Muscat menjadi ruang aman bagi komunikasi yang tetap harus berlangsung.
Kepercayaan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Oman secara konsisten membangun citra sebagai negara yang netral dan tidak konfrontatif. Jika Arab Saudi, Uni Emirat Arab, atau Qatar sering dipersepsikan memiliki agenda geopolitik tertentu dalam berbagai konflik kawasan, Oman cenderung mengambil posisi yang lebih hati-hati.
Kebijakan luar negeri Oman menempatkan dialog sebagai instrumen utama dalam menyelesaikan perselisihan.
Reputasi Oman sebagai mediator semakin menguat ketika dunia mengetahui bahwa perundingan rahasia yang menjadi fondasi kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 ternyata berlangsung di Muscat. Sejak 2012, Oman memfasilitasi serangkaian pertemuan tertutup antara pejabat Amerika Serikat dan Iran.
Pertemuan-pertemuan inilah yang kemudian membuka jalan bagi lahirnya Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), salah satu kesepakatan diplomatik paling penting dalam sejarah modern Timur Tengah.
Bagi Iran, Oman dipandang sebagai tetangga yang tidak mengancam keamanan nasionalnya. Hubungan kedua negara relatif stabil meskipun berada dalam lingkungan regional yang sering dilanda ketegangan. Tidak ada rivalitas ideologis yang tajam, tidak ada persaingan kepemimpinan kawasan yang agresif, dan tidak ada sejarah konflik terbuka yang membebani hubungan bilateral mereka.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga memiliki hubungan yang baik dengan Oman. Negara ini menjadi salah satu mitra keamanan Washington di kawasan Teluk. Kerja sama militer dan keamanan telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa menimbulkan kontroversi besar. Dengan demikian, Oman memiliki modal diplomatik yang langka yaitu dipercaya oleh Iran sekaligus dipercaya oleh Amerika Serikat.
Namun, peran Oman tidak semata-mata didorong oleh idealisme perdamaian. Oman memiliki kepentingan nasional yang sangat nyata. Stabilitas kawasan merupakan kebutuhan strategis bagi perekonomian dan keamanan negaranya. Jika konflik besar pecah di kawasan Teluk, dampaknya akan langsung dirasakan oleh Oman dalam bentuk gangguan perdagangan, investasi, dan stabilitas domestik.
Faktor geografis turut memperkuat kepentingan tersebut. Oman berada di salah satu kawasan paling strategis di dunia, yaitu pintu masuk Selat Hormuz. Bersama Iran, Oman memiliki posisi yang sangat penting dalam mengawasi jalur laut yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Karena itu, setiap ketegangan di Hormuz selalu menjadi perhatian pasar internasional.
Dalam perspektif geopolitik, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Ia merupakan strategic chokepoint, yaitu titik sempit yang memiliki nilai strategis sangat tinggi bagi perdagangan dan keamanan global. Gangguan kecil di kawasan ini dapat memengaruhi harga energi, pasar keuangan, hingga stabilitas ekonomi berbagai negara di dunia. Oleh sebab itu, Oman memiliki insentif yang kuat untuk mencegah konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat.
Tidak mengherankan jika Muscat sering dijuluki sebagai “ibu kota diplomasi senyap Timur Tengah”. Berbeda dengan konferensi internasional yang dipenuhi sorotan media dan pernyataan politik besar, diplomasi Oman lebih banyak berlangsung di balik layar.
Pendekatan ini mencerminkan apa yang dalam studi diplomasi disebut sebagai quiet diplomacy, yaitu strategi penyelesaian konflik melalui komunikasi yang tenang, tertutup, dan minim publisitas.
Muscat sebagai Ruang Dialog
Pola tersebut kembali terlihat dalam ketegangan Iran-Amerika sepanjang tahun 2026. Ketika ancaman militer, serangan rudal, dan retorika politik mendominasi berita utama dunia, jalur komunikasi tetap berjalan melalui Muscat.
Di saat banyak negara berbicara melalui ancaman, Oman menyediakan ruang bagi dialog. Kehadiran ruang komunikasi inilah yang sering kali mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Kasus Oman menunjukkan bahwa kekuatan dalam hubungan internasional tidak selalu identik dengan kapasitas militer atau kekuatan ekonomi. Dalam banyak situasi, modal politik yang paling berharga justru adalah kepercayaan. Negara yang dipercaya oleh berbagai pihak memiliki kemampuan untuk memengaruhi proses politik dan keamanan jauh melampaui ukuran wilayah maupun jumlah penduduknya.
Pada akhirnya, Oman memberikan pelajaran penting tentang arti kekuatan dalam dunia yang semakin kompleks. Negara ini tidak memiliki tentara terbesar di Timur Tengah. Ekonominya juga tidak sebesar negara-negara Teluk lainnya.
Namun ketika Iran dan Amerika Serikat membutuhkan jalan keluar dari krisis, ketika perang harus dicegah sebelum meluas, dan ketika komunikasi menjadi kebutuhan mendesak, pintu yang mereka ketuk sering kali tetap sama: Muscat. Di situlah letak kekuatan sejati Oman, sebuah kekuatan yang lahir bukan dari dominasi, melainkan dari kepercayaan.
Mulawarman Hannase. Dosen dan akademisi Universitas Indonesia, pengamat Timur Tengah, serta alumnus Universitas Al-Azhar Mesir, fokus pada isu geopolitik dunia Islam dan Timur Tengah. (rdp/imk)






