Dibalik Perang, Indonesia Meraup Untung dari Ekspor CPO dan Batu Bara

Berita, Bisnis, Dunia, Ekonomi1007 Dilihat

TAMIANGMENDE.COM: Ketika rantai pasokan energi global terganggu, permintaan akan komoditas alternatif justru meningkat tajam.

Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam ekspor minyak sawit atau CPO dan batu bara termal berada dalam posisi yang menguntungkan.

Lonjakan harga pasca konflik membuka peluang besar, membuat komoditas andalan nasional semakin bernilai di pasar global.

Berikut ini pembahasan fakta dibalik perang Amerika Serikat dan Iran. Ternyata, Indonesia meraup untung.

Eskalasi konflik geopolitik antara AS, Israel, dan Iran, yang menyebabkan gangguan keamanan di Selat Hormuz, berdampak signifikan pada rantai pasokan global.

Selat Hormuz Jalur Lalu Lintas 20 Persen Minyak dan Gas Dunia

Posisi Selat Hormuz sebagai jalur logistik penting yang mengakomodasi distribusi energi dan komoditas utama dunia, menyebabkan gangguan di wilayah tersebut memicu guncangan pasokan.

Terlebih lagi, Selat Hormuz adalah jalur lalu lintas untuk 20% minyak dan gas dunia. Ketidakpastian itu juga menciptakan lonjakan harga komoditas global, terutama minyak dan gas di seluruh dunia, dan membuat.

Dunia Menuju Krisis Energi

Dunia sedang menuju krisis energi. Hal ini membuat banyak negara berpikir keras dan mencari alternatif yang lebih terjangkau. Yaitu, salah satu solusinya adalah batu bara. Hal ini juga terlihat dari harga batu bara yang ikut naik dalam 30 hari terakhir.

Sementara itu, harga energi melonjak, ditambah lagi dengan kepanikan pasar. Minyak kelapa sawit atau CPO juga ikut naik. Terlebih lagi, saat ini CPO juga bisa digunakan sebagai sumber energi seperti bahan bakar nabati.

Kenaikan harga ini, bagi konsumen, ini memang sentimen negatif. Namun, tidak demikian halnya dengan negara-negara produsen, termasuk Indonesia. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan kinerja ekspor Indonesia ditopang oleh dua produk utama, yaitu minyak kelapa sawit dan turunannya, serta batu bara.

Ekspor CPO Indonesia Meningkat

Harus diakui memang belum ada data terbaru setelah perang meningkat. Namun, berdasarkan data pada Januari 2026, ekspor CPO Indonesia meningkat 77% per tahun, atau sebanyak 3,24 juta ton.

Produksi CPO Indonesia juga mengalami. Peningkatan 58% dalam produksi global. Dengan total produksi mencapai 46,7 juta ton metrik pada periode 2025-2026. Dan jika dibandingkan dengan pertumbuhan nilai di bulan Februari dan Maret, sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, harga CPO sudah meroket hingga level 14,6%.

Peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan, harganya sempat mencapai level 4.631 ringgit Malaysia per ton pada 16 Maret 2026, atau rekor tertinggi sejak Februari 2025 atau lebih dari setahun.

Sejak Perang Pecah, Harga Batu Bara Melonjak

Sementara itu, untuk komoditas batu bara, meskipun sempat mengalami penurunan nilai dan volume, kontribusinya tetap signifikan. Atau sebanyak 30,41 juta ton. Dengan nilai sebesar 1,82 miliar dolar AS.

Mengacu pada Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan hari Jumat kemarin atau sebulan setelah perang ditutup pada posisi 143,85 dolar AS per troy ons atau melonjak 1,3% sejak perang pecah.

Harga batu bara melonjak 23,04% bahkan sempat menembus level 146,5 dolar AS per ton. Itu terjadi pada tanggal 20 Maret 2026. Yang merupakan rekor tertinggi sejak Oktober 2024 atau 1,5 tahun.

Harga batu bara melonjak setelah banyak negara kembali menggunakan pasir hitam ini sebagai pengganti harga minyak.

Komoditas yang Meraup Untung Dalam Perang AS – Iran

Merujuk pada Refinitiv, setelah 10 hari perang antara Israel. Amerika Serikat dan Iran memanas, harga komoditas yang paling melonjak adalah harga minyak, diikuti oleh batu bara.

Kenaikan harga minyak bahkan lebih tinggi lagi. Jika dibandingkan dengan perang Rusia dan Ukraina. Kemudian, ada juga beberapa komoditas yang ikut meraup untung dalam perang ini. Di mana terjadi peningkatan, ada peningkatan ekspor di sejumlah komoditas.

Komoditas yang memperoleh cuan imbas perang adalah aluminium. Wilayah Teluk adalah basis peleburan aluminium dunia karena akses ke pasokan gas alam yang murah.

Ketakutan akan blokade maritim yang sebelumnya memicu. Aksi penimbunan yang mendorong harga aluminium naik karena ekspektasi kekurangan pasokan.

Deklarasi perdamaian memastikan operasional dan logistik smelter di Timur Tengah berjalan lancar. Kemudian, berikutnya adalah emas. Nah, normalisasi pasokan ini menghilangkan anggapan kelangkaan pada harga aluminium global. Di mana hal ini cukup menarik.

Harga Emas Masih Bergejolak

Biasanya, jika tensi geopolitik meningkat atau perang pecah di suatu wilayah, harga emas akan melonjak tajam. Namun, hal ini tidak terjadi dalam perang ini. Karena nilai emas adalah instrumen investasi yang aman. Harga emas masih bergejolak.

Banyak pihak memperkirakan ini disebabkan oleh aksi ambil untung para investor, yang dimulai setelah tren reli emas sejak akhir tahun lalu.

Kemudian, sektor lainnya adalah perkapalan. Bisnis perkapalan dan logistik maritim. Di mana saat ini indeks tarif angkutan laut, atau yang disebut freight rates. Dan juga, sewa kapal global sedang turun dari level tertinggi mereka, meskipun sempat mencapai level tertinggi beberapa minggu lalu.

Ancaman keamanan logistik maritim memaksa perusahaan pelayaran komersial untuk mengubah rute. Kapal kargo menghindari zona konflik. Pengalihan rute ini memakan waktu lebih lama, berdampak pada terganggunya perputaran armada.

Inefisiensi logistik ini menyebabkan kelangkaan ruang kargo global dan menaikkan tarif angkutan laut secara eksponensial. Momentum kelangkaan ini menjadi katalis utama pendapatan spot bagi emiten perkapalan.

Dan yang terakhir. Sektor yang terkena dampak perang ini adalah. Sektor petrokimia. Amonia global mulai terkoreksi dan menemukan titik keseimbangan. Paritas baru berkisar antara 600 hingga 700 dolar AS per ton.

Negara-negara Timur Tengah menguasai sebagian besar pasokan ekspor pupuk nitrogen dunia. Gangguan pengiriman selama krisis membatasi pasokan ke pasar internasional, yang langsung direspons dengan lonjakan tajam harga produk petrokimia. Keran logistik ditutup sepenuhnya.

Itu berarti jutaan ton pasokan tertahan dari wilayah Teluk dan akan berhenti memasok pasar global. Hukum ekonomi dasar akan menyebabkan harga naik seiring dengan menipisnya pasokan saat ini. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *