Curhat Penyintas Banjir Aceh Tamiang, “Mak, Kita di Tenda ini Sampai Kapan?”

TAMIANGMENDE.COM: Lebaran seharusnya jadi hari kemenangan, tapi bagi Irmahayani dan anak-anaknya, takbir hanya bergema di antara debu jalan dan panas tenda darurat.

Saat sebagian besar umat muslim merayakan hangatnya Idul Fitri 1447 Hijriah bersama keluarga di rumah, suasana berbeda justru terasa di Kampung Benuaraja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

Di tepi jalan raya yang berdebu, sebuah tenda sederhana menjadi saksi bisu lebaran yang jauh dari kata layak. Di dalam tenda itu, Irmahayani (41) merayakan hari ketiga Idul Fitri bersama suami dan dua anaknya, Nazwa Humaira (8) dan Mikhaila Mauliza (1). Tidak ada hidangan istimewa, tidak ada tamu, bahkan untuk sekadar merasa nyaman pun sulit.

“Lebaran kali ini ya, rasa semangat itu kayak hilang. Mau dibilang gak semangat pun gak boleh, karena kita umat Islam. Tapi dengan keadaan begini, kami masih di tenda, rasanya kayak nggak layak kali,” kata Irmahayani dengan suara pelan, menahan emosi. Banjir yang melanda November 2026 lalu memaksa keluarganya kehilangan tempat tinggal.

Sejak itu, mereka bertahan di tenda darurat yang berdiri hanya sekitar satu meter dari badan jalan.

Debu beterbangan setiap kendaraan melintas, siang hari terasa menyengat, malam pun tak pernah benar-benar tenang.

“Biasanya lebaran kita semangat, nunggu tamu, keluarga datang. Sekarang jangankan nunggu, kami sendiri aja nggak mampu tinggal nyaman di tenda ini,” ujarnya. Kondisi hidup di tenda serba terbatas. Semua aktivitas dilakukan di ruang sempit yang sama. Memasak, mencuci, hingga beristirahat.

Untuk kebutuhan dasar seperti buang air, Irmahayani terpaksa bergantung pada belas kasihan tetangga atau fasilitas umum.

“Kalau gak kebelet, bisa ke rumah orang atau ke masjid. Tapi kalau udah kebelet, ya ‘WC terbang’. Mau gimana lagi, rumah belum pulih, air pun nggak ada,” katanya tanpa menutupi kenyataan pahit itu.

Anak bungsunya pun mulai terdampak kondisi lingkungan. Debu jalanan membuat kesehatan terganggu, sementara panas siang hari dan bising kendaraan di malam hari membuat mereka sulit beristirahat.

“Kalau siang panas kali, malam pun takut mobil ngebut, takut kena tenda kami,” kata Irmahayani.

Lebaran yang biasanya menjadi momen silaturahmi juga terasa sepi. Tidak ada sanak saudara yang datang berkunjung. “Memang biasa begitu, kalau keluarga susah, gak ada yang datang,” ucapnya lirih.

Lebih dari sekadar kehilangan rumah, yang dirasakan Irmahayani adalah hilangnya harapan akan perhatian.

Hingga kini, ia mengaku belum menerima bantuan yang berarti, baik dari pemerintah maupun pihak kampung. “Sampai sekarang belum ada perhatian. Dana bantuan pun seperak pun belum kami terima,” katanya.

Di tengah kondisi itu, harapan sederhana justru datang dari anaknya. Sebuah pertanyaan polos yang justru terasa paling menyakitkan. “Anak saya bilang, ‘Mak kita di sini sampai kapan?’ Sedih kali dengarnya,” ujar Irmahayani. Matanya berkaca-kaca.(Red/TM)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *