China Dekati Eropa Demi Tatanan Dunia Multipolar Tanpa AS?

Berita, Dunia, Politik16 Dilihat

TAMIANGMENDE.COM:  “Eropa sekarang telah kehilangan arti, baik secara geopolitik maupun ekonomi,” tukas seorang mahasiswa hukum di kursi penonton dalam sebuah acara talk show politik milik Shanghai Media Group (SMG). Dia kemudian melempar pertanyaan tajam kepada para narasumber: apakah elit dan masyarakat di Eropa menyadari kenyataan tersebut?
Pertanyaan itu mencerminkan persepsi yang berkembang di ruang publik Cina tentang kondisi Eropa saat ini: pertumbuhan ekonomi yang stagnan, kebijakan luar negeri yang dinilai bergantung pada Amerika Serikat, serta kemampuan pertahanan yang dianggap terbatas.

Delapan puluh satu tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, menurut pandangan tersebut, negara-negara Eropa masih harus “membungkuk” di hadapan Washington. Bahkan perang di depan pintu mereka sendiri—invasi Rusia terhadap Ukraina—tidak mampu dihentikan oleh kekuatan Eropa, meskipun berbagai upaya telah dilakukan.

Para tamu di studio tidak tampak terkejut dengan observasi sang mahasiswa. “Ini pertanyaan yang sangat serius,” ujar Zhang Weiwei, dekan di China Institute. Menurutnya, hampir semua dinamika di Eropa masih berkaitan dengan Amerika Serikat.

Dia menilai banyak warga Eropa masih menganggap masa kepresidenan Donald Trump hanya sebagai fase sementara. “Mereka belum sepenuhnya mau menerima perubahan realitas yang sedang berlangsung,” katanya dalam acara tersebut pada 2025. Namun, tambah Zhang, semakin banyak pihak yang mulai melihat kenyataan itu.

Buta realita di dunia multipolar
Pandangan serupa disampaikan oleh Vuk Jeremi, mantan presiden United Nations General Assembly yang kini menjadi guru besar hubungan internasional di Universitas Sciences Po di Prancis.

Dia mengatakan, banyak intelektual Prancis kesulitan menerima bahwa perubahan global berlangsung begitu cepat. “Ada ketidakpahaman bahwa dunia memang berubah secepat ini,” ujarnya.

Beijing melihat masa depan dunia dalam tatanan multipolar—sebuah gagasan yang menjadi jawaban Cina atas rivalitas yang kian tajam dengan Amerika Serikat. Selama puluhan tahun setelah dua perang dunia, Washington dianggap mendominasi hampir semua bidang kekuatan global.

Kini, menurut pandangan Beijing, Cina akan ikut mendiktekan tatanan tersebut—bersama Rusia dan negara-negara lain yang sepemikiran. Menariknya, dalam gambaran itu Cina juga melihat Eropa sebagai salah satu kutub kekuatan yang mandiri.

Logikanya sederhana. Eropa memiliki dua kursi veto di Dewan Keamanan PBB melalui Prancis dan Inggris. Pasar tunggal Eropa juga sangat menarik bagi ekonomi Tiongkok yang berorientasi ekspor—terlebih setelah perang tarif dengan AS.

Para pejabat di Beijing menilai perusahaan Eropa dan Cina dapat saling melengkapi: Eropa masih memiliki keunggulan teknologi, sementara Cina menawarkan kapasitas produksi besar dengan harga kompetitif.

Dari perspektif Beijing, kondisi itu membuka peluang untuk menjadikan Eropa sebagai mitra strategis—dengan syarat Eropa mampu menjalankan kebijakan luar negeri dan ekonomi yang lebih independen dari Washington.

Globalisasi yang mandek
Menurut Ding Chun, profesor di Fudan University sekaligus ketua Shanghai Institute for European Studies, globalisasi sebenarnya telah memasuki fase stagnasi sejak akhir Perang Dingin pada 1990-an.

Dominasi Amerika Serikat di lembaga seperti International Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, katanya, selama ini menopang berbagai program ekonomi di Amerika Latin maupun Eropa. Pola ini dikenal sebagai “Konsensus Washington”.

“Namun zaman telah berubah,” kata Ding dalam sebuah forum di Shanghai pada pertengahan April. Banyak hal tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, termasuk di Eropa. Generasi muda, menurutnya, semakin jenuh dengan elite politik tradisional, sementara media sosial membuat hasil pemilu semakin sulit diprediksi.

Dalam konteks itu, Cina mencoba menantang “Konsensus Washington” dengan menempatkan PBB sebagai panggung utama bagi visi tatanan globalnya.

Saat berkunjung ke Beijing pada 29 April, Presiden Majelis Umum PBB saat ini, Annalena Baerbock, disebut menyatakan bahwa Cina—sebagai anggota pendiri PBB dan anggota tetap Dewan Keamanan—memiliki peran penting dalam menjaga multilateralisme serta menegakkan hukum internasional.

Pernyataan itu kontras dengan sikap Baerbock pada 2023 ketika, sebagai menteri luar negeri Jerman, dia pernah menyebut Presiden Xi Jinping sebagai “diktator”.

Menteri luar negeri Cina Wang Yi memanfaatkan kunjungan tersebut untuk kembali menekankan perlunya reformasi institusi PBB dan penguatan organisasi itu sebagai pondasi tatanan dunia multipolar. “Cina siap membantu, ujarnya.

Rangkaian krisis di Eropa
Menurut Jeremi, hubungan erat antara Amerika Serikat dan Eropa pada awalnya terbentuk setelah Perang Dunia II karena ancaman bersama dari komunisme Uni Soviet.

Setelah runtuhnya Tembok Berlin, Eropa menikmati dekade panjang kemakmuran. Benua itu bahkan menjadi model global tentang bagaimana negara-negara dapat mengatasi konflik sejarah dan membangun masa depan bersama.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, serangkaian krisis mulai bermunculan.

Dimulai dari krisis keuangan global, disusul krisis migrasi Eropa pada 2015, kemudian keluarnya Inggris dari Uni Eropa melalui Brexit pada 2020. Situasi semakin kompleks dengan masa jabatan pertama Donald Trump di Gedung Putih pada 2017–2021 serta memburuknya hubungan Eropa dengan Rusia.

“Situasi saat ini jelas jauh dari ideal,” kata Jeremi.

Sulit lepas dari Amerika
Menurut Zhang Weiwei, Uni Eropa masih cenderung mengikuti garis kebijakan Amerika Serikat dan semakin menginternalisasi logika NATO.

Dia merujuk pada ungkapan lama tentang strategi NATO: menjaga Rusia tetap di luar, menahan Jerman agar tidak terlalu kuat, dan memastikan Amerika tetap berada di dalam.

Namun bagi Zhang, pola itu tidak selalu sejalan dengan kepentingan Eropa sendiri.

Meski demikian, dia mengakui bahwa “decoupling”—mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat—akan sangat sulit dilakukan.

Salah satu penyebabnya adalah kegagalan Eropa memimpin revolusi digital yang dikenal sebagai Industri 4.0. Dari 20 perusahaan teknologi internet terbesar di dunia, tidak satu pun berasal dari Eropa. Platform digital Amerika mendominasi pasar Eropa dan menguasai data besar kawasan itu.

Ironisnya, beberapa tahun lalu Cina justru berharap dapat belajar dari Jerman mengenai konsep Industri 4.0—yang pertama kali diperkenalkan pada pameran teknologi Hannover Messe. Kini, menurut Zhang, konsep itu hampir tak lagi menjadi pusat pembicaraan.

Pesan Beijing kepada Brussel, menurut narasi tersebut, sederhana: Eropa perlu lebih mandiri dan menjadi mitra pragmatis bagi Cina.

“Eropa telah belajar pelajaran tentang kerendahan hati,” kata Zhang, merujuk pada hubungan yang sering tegang dengan Donald Trump sejak masa jabatan keduanya pada Januari.

Menurutnya, banyak pemimpin Eropa kini mulai menyadari bahwa sejumlah prioritas strategis—terutama dalam bidang ekonomi dan teknologi—akan sulit dicapai tanpa kerja sama dengan Cina.

Tulisan ini merupakan bagian dari seri “Decoding China” dari Deutsche Welle yang mencoba mengulas dan mengkritisi narasi serta argumen Cina tentang isu-isu global dari perspektif Jerman dan Eropa.

(ita/ita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *