Sinyal Kontradiktif AS-Iran soal Akhir Konflik

Berita, Dunia, Politik11 Dilihat

TAMIANGMENDE.COM: Amerika Serikat (AS) dan Iran menyampaikan pernyataan yang saling kontradiktif mengenai akhir konflik. Kedua negara bahkan saling menyerang.

Sumber-sumber pejabat AS mengklaim negosiator kedua negara telah mencapai nota kesepahaman sementara mengenai perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan kerangka kerja untuk perundingan nuklir, serta tinggal menunggu persetujuan akhir Presiden Donald Trump untuk diumumkan.

Namun otoritas Iran menepis klaim tersebut, dengan menegaskan bahwa nota kesepahaman kedua negara belum mencapai tahap finalisasi sama sekali.

Sumber-sumber AS yang mengetahui proses negosiasi yang berlangsung, seperti dilansir Al Arabiya dan Anadolu Agency, Jumat (29/5/2026), mengatakan bahwa nota kesepahaman atau MoU telah tercapai, namun Trump menginginkan waktu tambahan sebelum membuat keputusan akhir.

Laporan media terkemuka AS, Axios, yang juga mengutip sumber-sumber AS, menyebut Trump belum memberikan persetujuan akhir terhadap MoU tersebut, meskipun para negosiator dari kedua negara sebagian besar telah menyelesaikan persyaratannya.

Pertimbangan Trump

Laporan tersebut mengatakan bahwa para negosiator AS memberi pengarahan kepada Trump tentang proposal tersebut, tetapi presiden meminta waktu tambahan sebelum mengambil keputusan.

“Presiden menyampaikan kepada para mediator bahwa dia ingin beberapa hari untuk memikirkannya,” kata seorang pejabat AS seperti dikutip oleh Axios.

Para pejabat AS yang dikutip Axios disebut mengatakan bahwa para negosiator Iran kemudian memberitahu para mediator bahwa mereka telah memperoleh persetujuan yang diperlukan dan siap untuk menandatangani perjanjian tersebut. Teheran belum secara terbuka mengonfirmasi klaim ini.

Menurut sumber-sumber AS tersebut, kerangka kerja awal perjanjian tersebut akan mencakup janji Iran untuk tidak pernah mengupayakan senjata nuklir dan memulai diskusi tentang penyerahan pasokan uranium yang diperkaya tinggi.

Iran, menurut sumber AS itu, juga akan membuka kembali Selat Hormuz dan mulai menyingkirkan ranjau laut yang dipasang di jalur perairan strategis tersebut.

Selama periode 60 hari yang diusulkan, sebut sumber AS yang berbicara kepada Al Arabiya, Washington akan mulai melonggarkan sanksi-sanksi, termasuk pembatasan ekspor minyak Iran, sembari juga membahas pencairan dana Iran yang dibekukan.

Berdasarkan MoU tersebut, militer AS akan mengakhiri blokade laut terhadap Iran, dan pemerintahan Trump akan berupaya mengakhiri perang di Lebanon yang berkecamuk antara Israel dan kelompok Hizbullah.

Iran Bantah Nota Kesepahaman dengan AS Capai Tahap Finalisasi
Iran menyampaikan bantahan atas laporan media yang mengutip sumber-sumber pejabat AS. Kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan pemerintah Iran dan mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Teheran, menepis laporan yang menyebut nota kesepahaman telah mencapai tahap finalisasi.

Laporan Tasnim menyebutkan bahwa sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran mengindikasikan bahwa laporan media yang mengutip sumber-sumber Barat tersebut “tidak mencerminkan kenyataan”. Dikatakan oleh sumber tersebut bahwa “draf belum mencapai finalisasi”.

Ditegaskan sumber yang dikutip Tasnim dalam laporannya bahwa Iran belum memberitahu mediator Pakistan, yang terlibat dalam perundingan tidak langsung dengan AS, bahwa draf akhir untuk nota kesepahaman itu telah difinalisasi dan disepakati.

“Jika draf akhir tersebut benar-benar telah difinalisasi, Iran akan mengumumkan hal tersebut kepada mediator Pakistan dan publik. Hingga saat itu, klaim apa pun dari sumber-sumber Barat bahwa masalah ini telah mencapai finalisasi, tidak dapat dipercaya,” tegas sumber yang dikutip Tasnim dalam laporannya.

AS Tutup Akses Maskapai Iran

Sinyal untuk mengakhiri konflik juga makin terasa jauh. Hal ini terlihat dari pembatasan akses terhadap Iran. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menegaskan Washington tidak akan membatasi pergerakan terkait alasan keagamaan, saat mengumumkan langkah terbaru AS dalam menutup akses pendaratan untuk maskapai-maskapai Iran sebagai bentuk kampanye tekanan ekonomi.

Bessent, seperti dilansir AFP dan New York Post, Jumat (29/5/2026), memastikan bahwa warga negara Iran yang ingin terbang ke Makkah atau Madinah di Arab Saudi, untuk melakukan ibadah Haji atau umrah, dengan maskapai Teheran akan diizinkan, terlepas adanya langkah AS tersebut.

Bessent, dalam pernyataan via media sosial X pada Kamis (28/5), mengumumkan AS akan menghentikan akses maskapai-maskapai penerbangan Iran ke tempat-tempat pendaratan, pengisian bahan bakar, dan penjualan tiket.

Bessent menyebut langkah tersebut diambil saat Departemen Keuangan AS melanjutkan apa yang disebutnya sebagai “kampanye kemarahan ekonomi terhadap rezim Iran”, dalam upaya meningkatkan tekanan terhadap Teheran dan untuk membuka Selat Hormuz.

Dalam pernyataan lanjutan saat menggelar konferensi pers di Gedung Putih pada hari yang sama, Bessent mengatakan bahwa akan ada pengecualian terbatas. Dia menegaskan bahwa AS tidak akan membatasi pergerakan terkait alasan keagamaan.

“Satu hal yang tidak akan kami lakukan adalah membatasi pergerakan karena alasan keagamaan, jadi warga Iran yang ingin melakukan ziarah ke Makkah atau Madinah akan diizinkan,” tegas Bessent.

“Kami juga akan mengizinkan alasan kemanusiaan yang sah,” imbuhnya.

Iran Minta Israel Dilenyapkan

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengecam keras pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap komandan-komandan senior kelompok Hamas di Jalur Gaza. IRGC memperingatkan bahwa kawasan Asia Barat, atau Timur Tengah, tidak akan mengalami perdamaian kecuali Israel sepenuhnya dilenyapkan.

IRGC dalam pernyataannya, seperti dilansir Press TV, Jumat (29/5), mengutuk keras pembunuhan dua komandan senior Hamas, Mohammed Odeh dan Ezzeddin al-Haddad atau Abu Suhaib, oleh Israel. Keduanya merupakan komandan senior sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam.

Odeh dilaporkan tewas bersama istri dan ketiga anaknya akibat serangan Israel di area Kota Gaza.

Kematian mereka, sebut IRGC, “sekali lagi mengungkapkan sifat predator dan jahat dari rezim Zionis”.

Dalam pernyataannya yang dirilis Kamis (28/5), IRGC menegaskan bahwa kawasan tersebut “tidak akan mengalami perdamaian sampai rezim jahat dan pembunuh anak-anak ini dilenyapkan dari muka Bumi” — merujuk pada Israel.

Hamas, sekutu Iran, mengonfirmasi kematian Odeh akibat serangan udara besar-besaran Israel di Kota Gaza pada Rabu (27/5). Odeh disebut sebagai tokoh kunci dalam Brigade Ezzedine al-Qassam, meskipun baru menjabat beberapa hari untuk menggantikan Al-Haddad yang tewas akibat serangan Israel pada 15 Mei lalu.

IRGC, dalam pernyataannya, juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai rencana perdamaian untuk Jalur Gaza yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada awal tahun ini. Menurut IRGC, rencana perdamaian itu tidak efektif dan berbahaya.

“Apa yang disebut sebagai rencana perdamaian yang dibicarakan oleh Presiden Amerika, yang jahat dan suka bertaruh itu, tidak ada artinya, dengan adanya pembunuhan, pembantaian, dan teror,” sebut IRGC.

Trump Klaim Pegang Semua Kartu

Sementara itu, Trump mengatakan bahwa meskipun Iran merupakan negosiator yang “sangat bagus”, militer Teheran yang hancur telah memberikan Washington alat tawar-menawar untuk mengamankan kondisi yang diinginkan dalam perundingan.

“Mereka mahir, tetapi pada akhirnya, kita memiliki semua kartu karena kita telah mengalahkan mereka secara militer,” kata Trump dalam wawancara dengan program Fox News “My View with Lara Trump”, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (29/5/2026).

Lara Trump yang merupakan menantu Trump, menjadi host program Fox News tersebut. Wawancara ini dijadwalkan untuk tayang pada Sabtu (29/5) waktu AS.

“Mereka tidak memiliki Angkatan Laut. Setiap kapal — mereka memiliki 159 kapal, semuanya berada di dasar laut — setiap kapal. Kita mengambil gambar-gambarnya. Kita memiliki orang-orang yang turun untuk mengambil gambar ratusan kapal,” ucapnya.

“Angkatan Laut mereka benar-benar hancur, 100 persen. Angkatan Udara mereka benar-benar hancur, 100 persen,” klaim Trump dalam wawancara tersebut.

Lebih lanjut, Trump memperingatkan bahwa kesepakatan yang tidak menguntungkan AS menjadi batasan yang tidak boleh dilanggar oleh Iran, karena dapat memicu Washington untuk memulai kembali operasi militernya yang ofensif.

“Kesepakatan yang tidak menguntungkan kita adalah batasnya, pada akhirnya,” cetusnya.

“Saya membiarkan situasinya berkembang, dan kita akan melihat,” kata Trump.***