RSUD Muda Sedia Bangkit

Berita, Sosial Budaya2181 Dilihat

TAMIANGMNDE.COM:BANJIR bandang akhir 2025 bukan hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga melumpuhkan pusat layanan kesehatan terbesar di Aceh Tamiang. RSUD Muda Sedia [urat nadi pelayanan medis masyarakat] sempat nyaris lumpuh total.

Namun dari puing-puing bencana itu, sebuah proses kebangkitan perlahan dimulai; [bukan sekadar membangun ulang gedung, tetapi menata ulang sistem layanan kesehatan yang lebih kuat, manusiawi, dan berkelanjutan.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang resmi memulai langkah besar pembenahan layanan kesehatan pascabencana banjir bandang akhir 2025.

Program revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan standar kenyamanan, keamanan, dan mutu pelayanan bagi pasien serta masyarakat.

Direktur RSUD Muda Sedia, dr Andika Putra, SpPD, FINASIM, MHKes, menegaskan bahwa pemulihan fasilitas vital menjadi agenda utama manajemen rumah sakit.

Sejumlah area krusial seperti ruang ICU yang sebelumnya terdampak banjir kini dalam proses pengaktifan kembali secara maksimal.

Upaya ini diperkuat melalui koordinasi intensif dengan pemerintah pusat. Sinergi antara RSUD Muda Sedia, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pekerjaan Umum telah menghasilkan sinyal positif terhadap percepatan program revitalisasi infrastruktur secara menyeluruh.

Selain fasilitas medis, pembenahan juga menyasar penataan lingkungan rumah sakit, termasuk area pendukung seperti kantin.

Penataan dilakukan untuk menjamin higienitas, estetika, dan keteraturan lingkungan. Pihak manajemen meminta para pedagang mengosongkan area sementara waktu guna proses pembersihan dan penataan ulang.

Manajemen rumah sakit memastikan bahwa para pedagang lama tetap diprioritaskan untuk kembali beraktivitas setelah proses penataan selesai, dengan sistem tata ruang yang lebih tertib dan nyaman.

RSUD MUDA SEDIA PASCABENCANA; DARI LUMPUH TOTAL MENUJU PULIH BERTAHAP

RSUD Muda Sedia menjadi salah satu fasilitas publik dengan dampak kerusakan terparah akibat banjir besar Aceh Tamiang akhir 2025.

Hampir seluruh area rumah sakit terendam, menyebabkan sekitar 95 persen alat kesehatan serta sarana dan prasarana rusak berat hingga hilang.

Melalui sinergi lintas sektor, rumah sakit mulai bangkit secara bertahap sejak 11 Desember 2025, dimulai dari pemusatan layanan darurat. Hingga akhir Januari 2026, layanan utama telah kembali beroperasi secara normal.

FASILITAS LAYANAN YANG TELAH BERFUNGSI

IGD: Kapasitas 28 tempat tidur, Layanan utama: Poli rawat jalan, farmasi, dan ruang operasi. Rawat inap: Tiga ruangan dengan total 68 tempat tidur. Data pelayanan (11 Desember 2025 – 28 Januari 2026). Pasien IGD: 2.227 orang, Rawat jalan: 5.873 pasien, Rawat inap: 1.893 pasien.

Tindakan operasi: 147 tindakan. Layanan kritis seperti ICU, PICU, NICU, dan perinatologi tetap berjalan stabil meskipun masih menggunakan fasilitas terbatas.

KUNJUNGAN WAPRES DAN KOMITMEN REVITALISASI NASIONAL

DALAM kunjungan kerja pada Jumat, 30 Januari 2026 lalu, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, didampingi Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, MH, meninjau langsung kondisi RSUD Muda Sedia serta berdialog dengan para tenaga kesehatan.

Wapres memberikan apresiasi tinggi atas ketangguhan para tenaga kesehatan yang tetap menjaga layanan tetap berjalan di tengah keterbatasan pascabencana.

Sebagai langkah konkret, pemerintah pusat menegaskan komitmen untuk memprioritaskan revitalisasi infrastruktur vital, meliputi; Logistik medis: Penambahan armada ambulans, Digitalisasi: Penguatan sistem server dan integrasi layanan rumah sakit, Sanitasi & utilitas: Percepatan perbaikan IPAL, mesin cuci medis (laundry khusus), serta instalasi gas medis.

Kunjungan ini mempertegas arah kebijakan nasional bahwa pemulihan RSUD Muda Sedia bukan sekadar rehabilitasi bangunan, tetapi rekonstruksi sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh.

DARI LUMPUR BANJIR MENUJU REVITALISASI

RSUD Muda Sedia hari ini bukan lagi sekadar simbol pemulihan pascabencana, tetapi representasi ketahanan sistem kesehatan daerah.

Dari lumpur banjir menuju revitalisasi, dari keterbatasan menuju harapan baru, rumah sakit ini bergerak menjadi pusat layanan yang lebih modern, tangguh, dan berpihak pada keselamatan rakyat.

Pemulihan ini bukan akhir cerita; melainkan awal dari transformasi layanan kesehatan Aceh Tamiang menuju masa depan yang lebih beradab dan berkeadilan.(Red/TM)