RELI GLOBAL BERLANJUT: BURSA SAHAM DUNIA MENGUAT DORONG SENTIMEN IHSG, INVESTOR TUNGGU DATA THE FED

Berita, Bisnis, Dunia, Ekonomi24 Dilihat

TAMIANGMENDE.COM – Pekan perdagangan dibuka dengan optimisme. Bursa saham global kompak menguat pada Senin, 2 Agustus 2026. Penguatan ini didorong oleh meredanya kekhawatiran inflasi dan ekspektasi bahwa bank sentral utama dunia akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada kuartal IV tahun ini.

Dari Asia hingga Amerika, indeks-indeks utama mencatat kenaikan. Investor kini mengalihkan fokus ke rilis data ekonomi kunci dari Amerika Serikat, zona Euro, dan China yang akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa pekan ke depan.

1. PENGUATAN MERATA DI PASAR ASIA

Bursa saham Asia menjadi pembuka reli. Indeks Nikkei 225 di Jepang ditutup menguat 1,12% ke level 38.450. Penguatan ditopang oleh saham-saham teknologi dan eksportir yang diuntungkan oleh pelemahan Yen terhadap Dolar AS.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng naik 0,85%. Saham-saham properti dan teknologi China menjadi motor penguatan setelah pemerintah Beijing kembali mengisyaratkan stimulus baru untuk sektor properti yang masih lesu.

Bursa China daratan juga hijau. Indeks CSI 300 naik 0,63% dan Shanghai Composite menguat 0,51%. Sentimen positif datang dari data PMI Manufaktur yang menunjukkan ekspansi tipis, mengindikasikan ekonomi terbesar kedua di dunia mulai stabil.

Pasar Korea Selatan dan Australia juga ikut menguat. Indeks KOSPI naik 0,74% sementara ASX 200 menguat 0,58%. Analis menilai investor Asia sedang “buru-buru masuk” sebelum rilis data inflasi AS yang diprediksi melandai.

2. EROPA HIJAU, TUMPUAN KE DATA INFLASI

Memasuki sesi Eropa, penguatan berlanjut. Indeks DAX Jerman naik 0,62% dan CAC 40 Prancis menguat 0,55%. FTSE 100 London naik 0,48% ditopang oleh saham energi dan perbankan.

Fokus utama pelaku pasar Eropa tertuju pada data inflasi zona Euro yang akan dirilis Rabu besok. Bank Sentral Eropa atau ECB sebelumnya mengisyaratkan jeda kenaikan suku bunga jika inflasi terus turun mendekati target 2%.

“Kami melihat ada peluang ECB memangkas suku bunga pada Desember. Itu yang membuat dana asing mulai masuk lagi ke saham-saham Eropa,” kata kepala riset sebuah sekuritas di Frankfurt.

Sektor otomotif dan industri menjadi yang paling diuntungkan karena ekspektasi penurunan biaya pinjaman.

3. WALL STREET SIAP LANJUTKAN RELI

Di Amerika Serikat, indeks berjangka menunjukkan pembukaan yang kuat. Dow Jones Futures naik 210 poin, S&P 500 Futures menguat 0,8% dan Nasdaq 100 Futures melonjak 1,1%.

Penguatan ini terjadi di tengah musim laporan keuangan kuartal II 2026 yang sebagian besar melampaui ekspektasi. Saham-saham “Magnificent Seven” seperti Nvidia, Microsoft, dan Apple kembali menjadi penopang utama Nasdaq.

Perhatian utama minggu ini adalah data Non-Farm Payroll dan tingkat pengangguran AS yang akan dirilis Jumat. Data ini sangat penting karena akan menentukan langkah The Fed selanjutnya.

Ketua The Fed sebelumnya memberi sinyal “hati-hati” dan tidak terburu-buru menurunkan suku bunga. Namun pasar kini bertaruh 70% bahwa pemangkasan pertama akan terjadi pada November 2026.

“Jika data tenaga kerja menunjukkan pendinginan tanpa resesi, maka itu skenario terbaik untuk pasar saham,” ujar analis dari Wall Street.

4. DAMPAK KE IHSG DAN PASAR INDONESIA*

Penguatan global ini berdampak positif ke Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka menguat 0,91% ke level 7.420 pada perdagangan Senin pagi.

Saham-saham perbankan, consumer, dan teknologi menjadi yang paling banyak diincar investor asing. Tercatat asing membukukan net buy sebesar Rp 1,2 Triliun di pasar reguler.

Kepala Ekonom PT Bahana Sekuritas menilai, masuknya aliran dana asing ke Indonesia tidak lepas dari imbal hasil obligasi AS yang mulai turun dan valuasi IHSG yang masih menarik.

“Investor asing melihat Indonesia sebagai safe haven di tengah ketidakpastian global. Ditambah dengan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi 5% membuat IHSG masih punya ruang naik ke 7.600 akhir tahun,” jelasnya.

Namun ia mengingatkan, risiko tetap ada dari fluktuasi harga komoditas dan kebijakan moneter global.

5. HARGA KOMODITAS DAN VALAS IKUTI SENTIMEN

Penguatan bursa juga mengangkat harga komoditas. Harga minyak mentah Brent naik 1,3% ke USD 82,4 per barel. Optimisme permintaan dari China dan AS menjadi pendorongnya.

Harga emas spot naik 0,6% ke USD 2.420 per troy ounce. Emas masih dilirik sebagai aset lindung nilai meski ekuitas menguat.

Di pasar valuta asing, Dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang. EUR/USD naik ke 1,095 dan USD/JPY turun ke 148,2. Rupiah juga menguat 0,4% ke Rp 15.850 per USD.

6. RISIKO DAN PROYEKSI KE DEPAN

Meski reli terjadi, para analis tetap mewaspadai beberapa risiko. Pertama, tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur yang bisa memicu lonjakan harga minyak.

Kedua, ketidakpastian kebijakan tarif perdagangan antara AS dan China yang bisa kembali memanas jelang pemilu AS.

Ketiga, laporan keuangan emiten di kuartal III. Jika laba perusahaan mulai turun karena tekanan biaya, maka reli saat ini bisa terhenti.

“Secara teknikal, S&P 500 masih punya ruang naik 5% lagi sebelum memasuki area jenuh beli. Kuncinya ada di data inflasi dan suku bunga,” tutup analis tersebut.

Untuk investor ritel di Indonesia, momen ini bisa dimanfaatkan untuk masuk ke saham-saham fundamental kuat dan sektor yang diuntungkan dari penurunan suku bunga seperti properti dan infrastruktur.(Red/TM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *