Kelompok Lobi Pro-Israel Dukung Setop Bantuan Militer AS ke Tel Aviv

Berita, Dunia, Politik408 Dilihat

TAMIANGMENDE.COM: Kelompok lobi pro-Israel yang beraliran liberal, J Street, menyerukan penghentian secara bertahap untuk semua bantuan militer Amerika Serikat (AS) kepada Israel untuk tahun 2028 mendatang. Hal ini menjadi tanda yang mencolok tentang seberapa jauh pergeseran politik di Washington untuk dukungan tanpa syarat bagi Israel.

Dalam wawancara dengan media Israel, Haaretz, seperti dilansir Middle East Monitor, Selasa (14/4/2026), kepala J Street, Jeremy Ben-Amin, mengatakan bahwa hubungan AS-Israel harus “dinormalisasi” sehingga “tidak ada lagi pengecualian untuk perlakuan khusus”.

Israel, cetus Ben-Amin, diharapkan untuk membiayai kebutuhan militernya sendiri dari anggaran mereka sendiri setelah perjanjian bantuan militer saat ini berakhir.

Banyak pengkritik menekankan bahwa sikap agresif Israel di kawasan tersebut dan pendudukan ilegal atas Palestina yang berkelanjutan, akan sangat terhambat tanpa bantuan AS, yang nantinya akan memaksa Tel Aviv untuk mengubah kebijakan.

Pergeseran sikap ini dianggap signifikan karena J Street telah sejak lama memposisikan diri sebagai alternatif Zionis liberal terhadap kelompok-kelompok lobi pro-Israel yang lebih beraliran garis keras, sambil tetap mempertahankan hubungan AS-Israel yang “kuat”.

Meskipun sikap J Street tidak sampai menyerukan embargo senjata penuh, hal ini menandai salah satu pengakuan paling jelas dari organisasi pro-Israel arus utama di AS bahwa era subsidi militer otomatis untuk Tel Aviv semakin sulit dipertahankan secara politis.

Ben-Ami mencetuskan bahwa penjualan senjata ke Israel di masa mendatang harus tunduk pada standar hukum yang sama seperti yang diterapkan terhadap negara-negara lainnya.

Salah satu standar hukum yang dimaksud adalah undang-undang Leahy, yang melarang bantuan AS kepada unit militer asing yang dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.

Ben-Amin juga berpendapat bahwa Israel, dengan anggaran pertahanan sebesar US$ 45 miliar (Rp 771 triliun), mampu membiayai sendiri sistem pertahanan seperti Iron Dome.

Pergeseran sikap salah satu kelompok lobi pro-Israel ini terjadi di tengah pergeseran lebih luas di kalangan Partai Demokrat, di mana Israel semakin dipandang sebagai beban politik daripada sekutu yang tidak perlu dipertanyakan.

Pekan lalu, jajak pendapat terbaru Pew menunjukkan bahwa 60 persen warga dewasa AS sekarang memandang Israel secara negatif. Di antara kalangan Partai Demokrat dan independen yang condong ke Demokrat, angkat tersebut meningkat menjadi 80 persen, naik dari 69 persen pada tahun lalu.

Penurunan dukungan tersebut membentuk kembali politik arus utama Partai Demokrat. Salah anggota DPR dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez, mengatakan pada awal bulan ini bawah dirinya akan menentang bantuan militer AS kepada Israel di masa depan, termasuk untuk sistem pertahanan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *