TAMIANGMENDE.COM: Kedutaan Besar Iran di Seoul, Korea Selatan (Korsel) membantah bahwa angkatan bersenjatanya terlibat dalam ledakan yang menghantam sebuah kapal Korsel di Selat Hormuz pekan ini.
Sebelumnya dilaporkan bahwa ledakan dan kebakaran terjadi di kapal kargo Korea Selatan, HMM Namu yang membawa 24 awak, pada hari Senin lalu.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengklaim bahwa Iran telah “menembak” kapal berbendera Panama tersebut. Dia pun mendesak militer Korea Selatan untuk bergabung dengan operasi Amerika yang bertujuan untuk memulihkan pelayaran normal melalui selat strategis tersebut.
Dilansir kantor berita AFP, Kamis (7/5/2026), Kedutaan Besar Teheran mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (7/5), bahwa mereka “dengan tegas menolak dan membantah tuduhan apa pun mengenai keterlibatan angkatan bersenjata Republik Islam Iran dalam insiden yang melibatkan kerusakan pada kapal Korea di Selat Hormuz”.
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu, Teheran “telah berulang kali menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan bagian integral dari geografi pertahanannya,” ujar Kedutaan Besar Iran tersebut.
“Oleh karena itu, pelayaran aman melalui Selat Hormuz membutuhkan kepatuhan penuh terhadap peraturan yang berlaku,” katanya.
“Dalam keadaan seperti itu, setiap pengabaian terhadap persyaratan yang dinyatakan dan realitas operasional… dapat menyebabkan insiden yang tidak diinginkan,” cetus kedutaan.
“Tanggung jawab atas konsekuensi tersebut terletak pada pihak-pihak yang melanjutkan transit atau aktivitas di area tersebut tanpa memperhatikan pertimbangan ini,” imbuhnya.
Sebelumnya, menanggapi pernyataan Trump, pemerintah Korea Selatan mengatakan akan meninjau kembali posisinya mengenai bergabung dengan operasi AS untuk mengawal kapal-kapal di Selat Hormuz.
Namun, Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan, Wi Sung-lac mengatakan pada hari Rabu (6/5), bahwa penangguhan program AS yang bernama “Proyek Kebebasan” telah membuat peninjauan tersebut tidak perlu.***
