TAMIANGMENDE.COM: Italia gagal lolos ke tiga edisi terakhir Piala Dunia. Andai saran Roberto Baggio untuk mereformasi sepak bola negeri pizza didengarkan, barangkali hasilnya takkan seperti sekarang.
Sekitar dua bulan setelah Italia, yang saat itu berstatus juara bertahan, tersingkir di fase grup Piala Dunia 2010, Federasi Sepakbola Italia (FIGC) menunjuk Baggio sebagai kepala sektor teknis.
Peraih Ballon d’Or 1993 itu kemudian membentuk tim berisi 50 orang yang terdiri dari pelatih, peneliti, pakar, dan konsultan. Mereka mempelajari apa yang perlu diperbaiki demi kemajuan sepak bola Italia.
Hasilnya adalah laporan 900 halaman yang mengajukan perombakan dalam pembinaan pemain muda yang dirilis pada Desember 2011. Ada sejumlah poin penting.
Baggio ingin mengubah cara pandang seleksi di level akademi, yang tak lagi mengedepankan fisik namun juga aspek teknis, penguasaan bola, pengambilan keputusan, hingga inteligensia permainan. Ia juga meminta pelatih fokus di teknik ketimbang taktik.
FIGC diminta meningkatkan kualitas para pelatih di level muda dengan mewajibkan mereka memiliki latar pendidikan yang baik, tak hanya di sepak bola. Ia juga menginginkan kolaborasi antara peneliti dari universitas dengan tim kepelatihan.
Lalu ia menekankan pembangunan pusat latihan di 100 distrik berbeda di Italia, dengan tiap distrik diisi tiga pelatih dari FIGC. Fungsinya agar jumlah pertandingan kelompok umur semakin banyak.
Langkah di atas juga diiringi perbaikan pendataan sektor pemain muda. Ia ingin profil dan perkembangan pemain tercatat rapi. Dengan begitu, pemantauan bibit potensial bisa lebih mudah dilakukan.
Tak hanya itu, Baggio juga menekankan pendidikan moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia ingin membentuk individu yang cakap, bukan sekadar atlet biasa.
Laporan Baggio ini tak ditanggapi dengan serius oleh FIGC. Ia kemudian mundur pada 2013 karena merasa diabaikan.
“Saya bekerja untuk memperbarui tim dari nol, untuk menciptakan pemain-pemain dan orang-orang baik. Saya mempresentasikan proyek saya pada Desember 2011, setebal 900 halaman, dan itu tetap menjadi surat mati,” ujar Baggio saat itu.
Proposal yang ia ajukan sebetulnya tak menjamin kesuksesan, namun terbukti apa yang FIGC jalankan juga tak berhasil. Topik proposal Baggio kembali mengemuka usai Italia gagal lolos Piala Dunia 2026, dan kini publik berandai-andai apa yang akan terjadi seandainya FIGC mengikuti saran Baggio.***






