Kisah Lansia Asal Surakarta Besarkan Anak dari Jual Bunga-Bersihkan Makam

TAMIANGMENDE.COM: Di salah satu sudut rumah sederhana Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Mak Painah (73) keluar menuju area pemakaman. Dari pekerjaan berjualan bunga dan membersihkan makam, Painah bisa membesarkan Aditya Herlambang.

Sejak suaminya meninggal, Mak Painah hidup sebatang kara bersama sang anak asuh, Aditya yang dibesarkan sejak bayi.

Penghasilannya tidak menentu. Kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Kadang lebih sedikit lagi, bahkan tidak sampai Rp 10 ribu. Setiap pagi, dirinya memungut bunga kamboja yang gugur serta membersihkan makam yang dikunjungi peziarah. Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, tapi dari situlah ia bertahan hidup.

Tapi dari situlah, dia membesarkan Aditya. Awalnya, hanya dititipkan sebentar. Tapi orang tua kandungnya tidak pernah kembali, dan sejak itu Mak Painah mengurus semua kebutuhan hidup Aditya.

“Sudah saya anggap anak sendiri,” ucap Mak Painah dalam keterangan tertulis Kemensos, Kamis (28/5/2026).

Aditya tumbuh di tengah kehidupan yang serba sederhana. Dia bisa bersekolah, serta terpenuhi kebutuhan lainnya di tengah keterbatasan.

Saat Aditya lulus SMP, Mak Painah sempat bingung. Dia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan biaya sekolah anak asuhnya.

“Waktu itu saya benar-benar takut dia tidak bisa sekolah lagi karena saya tidak punya biaya,” ujarnya.

Kemudian datanglah kabar yang membuatnya lega. Aditya diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta.

“Alhamdulillah saya senang sekali. Sampai nangis karena dia bisa sekolah tanpa biaya, gratis,” tuturnya.

Bagi Mak Painah, Aditya bukan hanya anak asuh. Kehadirannya menjadi alasan untuk tetap bertahan menjalani hidup di usia senja.

Mak Painah merasakan perhatian pemerintah banyak menopang hidupnya. Dia juga menerima bantuan dari Kementerian Sosial dalam Program Keluarga Harapan (PKH), lalu pada 2025, ia berhak menerima bantuan sembako dan Yatim Piatu (YAPI) yang membantu kebutuhan hariannya.

“Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya,” tutup Mak Painah.

(prf/ega)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *